![]() |
| cr: Pinterest |
Saya yakin, pada dasarnya semua orang boleh berpendapat. Sebab jika berpendapat itu sudah dilarang, saya pasti sudah mengikir dinding penjara karena tak sudi berhenti bercerita. Lagipula, kata Bunda saya, orang zaman sekarang mana bisa dipercaya?
Terakhir kali saya percayakan hati saya saja, orang itu entah kemana. Katanya sih sibuk belajar. Saya lantas tanya; belajar apa sih, sayang? Matematika? Itu kan mudah. Saya bisa kok, cuma saya lebih mahir saja belajar mencintai kamu.
Orang bilang saya pengecut karena tidak memperjuangkan apa yang seharusnya saja kejar. Cinta. Buat apa? Saya lari-lari mengejarnya di dalam pikiran saya saja sudah lelah, sedangkan tidak sehela nafaspun dia sempat mikirin saya. Di hati saya sudah gaduh jika beberapa pesan saya tidak ia gubris. Saya sih tidak sempat marah, soalnya mencintai dia saja sudah menguras tenaga; mana bisa lagi?
Omong-omong, pengecut itu kalau tidak punya nyali dan beraninya hanya mengambil milik orang lain tanpa izin. Masa’ saya yang baik ini dibilang pengecut? Memangnya alpa apa yang saya perbuat? Duh sayang, saya rasa kamu berlebihan. Mana bisa menyayangi kamu tanpa meminta balasan seujung kuku pun itu namanya dosa?
Pengecut; pengecut. Saya rela dijuluki pengecut karena saya hanya bisa mengharap segala yang baik dari sela-sela jemari buat kamu. Tanpa henti, walaupun kamu tidak tahu. Sebab jika kamu bahagia, saya pun akan juga. Maka, baik-baik ya disana. Semoga doa seorang pengecut ini didengar Tuhan. Sampai jumpa lagi di perbatasan takdir.
(Putika Herdin, late November, 2015)


0 Comments